Webinar
Menakar Kembali Kondisi Republik: Refleksi Menuju Indonesia Emas 2045

Kondisi politik dan ekonomi Indonesia hari ini menyimpan sejumlah persoalan yang menuntut perhatian serius. Kasus korupsi yang terus terjadi, program prioritas pemerintah berpotensi menekan ruang fiskal APBN, dan pemutusan hubungan kerja terus terjadi di tengah terbatasnya penciptaan lapangan kerja baru. Ketiganya bukan persoalan yang berdiri sendiri. Korupsi menggerus kapasitas negara membiayai pembangunan, tekanan fiskal mempersempit ruang gerak kebijakan, dan keduanya bermuara pada kemampuan ekonomi menyerap tenaga kerja. Pada saat yang sama, Indonesia memiliki visi Indonesia Emas 2045 yang bertumpu pada momentum bonus demografi. Berbagai kajian LAB 45 menunjukkan bahwa jarak antara kondisi faktual dan cita- cita tersebut masih lebar, dan persoalan yang belum terselesaikan berpotensi menjadi hambatan nyata dalam pencapaiannya.
Persoalan hari ini tidak dapat dibaca terlepas dari perjalanan delapan dekade Indonesia Merdeka. Buku Jam Pasir Indonesia menawarkan kerangka untuk membaca kembali perjalanan tersebut dari beragam perspektif, dan dua di antaranya menjadi fokus kegiatan ini: ekonomi politik dan tata kelola demokrasi. Buku ini menyoroti berbagai permasalahan demokrasi dari berbagai sudut pandang. Metafora jam pasir yang menjadi judul buku mengandung pengingat yang tegas bahwa waktu yang tersisa terus berkurang, dan setiap butir yang jatuh adalah kesempatan yang sudah terbayar. Sebagaimana dinyatakan dalam pengantar buku, sejak 1945 Indonesia berjalan sambil memanggul optimisme besar, tetapi juga memelihara kelemahan yang sama besarnya. Membaca perjalanan bangsa sesungguhnya tidak sulit; yang sulit ialah mengakui apa yang terbaca.
Berangkat dari pemikiran tersebut, kegiatan "Menakar Kembali Kondisi Republik: Refleksi Menuju Indonesia Emas 2045" dihadirkan sebagai ruang untuk mendiskusikan tiga hal: (1) kondisi ekonomi dan politik republik hari ini secara jujur dan berbasis data, (2) tantangan struktural yang harus dihadapi menuju 2045, serta (3) peran yang dapat diambil generasi muda, khususnya mahasiswa, dalam menentukan arah masa depan republik. Bagi generasi yang akan berada di puncak usia produktif pada 2045, refleksi ini bukan sekadar latihan akademik; ia menyangkut masa depan yang akan mereka kelola sendiri.







