Terjebak dalam Perang yang Tidak Kita Deklarasikan

Terjebak dalam Perang yang Tidak Kita Deklarasikan
Diyauddin Rabu, 10 Juni 2026
Generated by AI Generated by AI

Penulis

Diyauddin

Diyauddin

Analis Utama
Maha Data

DALAM persepktif intelijen tradisional, kekuatan negara diukur dari kapabilitasnya menyimpan rahasia. Namun, di lanskap digital saat ini terjadi paradoks, negara justru berlomba menjadi yang paling terbuka dan tercepat menyajikan informasi seolah itu bentuk akuntabilitas. 

Kelimpahan informasi yang diproduksi negara bukan selalu instrumen keterbukaan, melainkan alat membentuk realitas. Heuer (1999) mengatakan bahwa analis intelijen yang baik bekerja melawan bias kognitif. 

Hari ini bias kognitif itulah titik serang propaganda modern, saat kebenaran diperlakukan sebagai komoditas yang dapat difabrikasi sesuai kepentingan trategis. 

Konflik Iran versus aliansi AS-Israel 2025/2026 memaksa kita mendefinisikan ulang ancaman kedaulatan di era digital. Yang dipertaruhkan bukan wilayah fisik, melainkan ruang kognitif pengguna media sosial di Indonesia. 

Publikasi Terkait