Elegi di Dahan Cengkih, Tulisan yang Tak Sempat Sampai
Penulis
Pertanyaan besar yang harus kita ajukan adalah: ke mana perginya komunitas lokal? Mengapa modal sosial, yang konon adalah DNA bangsa ini dalam wujud gotong royong, seolah mengalami tidur panjang?
Kita sering membanggakan kearifan lokal sebagai penyelamat di masa krisis, tetapi dalam kasus YBR, solidaritas itu tampak sepi.
Ada sebuah atomisasi sosial yang menyedihkan, yakni kemiskinan yang ekstrem telah membuat setiap orang sibuk bertahan hidup sendiri-sendiri sehingga tak lagi mampu mendengar isak tangis di rumah tetangga.
Membangkitkan solidaritas nasional tidak berarti melakukan kedermawanan karitatif yang bersifat musiman. Kita perlu gigih dan harus menuntut pengembalian fungsi komunitas sebagai pengawas sosial dan penyangga pertama.
Namun, komunitas tak bisa bergerak sendiri jika negara terus-menerus membirokratisasi ruang-ruang publik dan melemahkan agensi warga melalui ketergantungan bantuan yang bersifat klientelistik.








